Managing Time & Energy: Pathways to be Productive

Ditulis oleh Herdini Primasari
Sudah tayang di herdiniprimasari.medium.com

Kita sebagai manusia pasti memiliki peran-peran tertentu di masyarakat, mulai dari unit terkecil hingga yang paling besar: kita sebagai anak, kakak/adik, keponakan, sepupu, orang tua, murid, guru/dosen, staff, dan seterusnya. Tentu masing-masing peran tersebut punya tuntutan tersendiri, semisal kita saat di rumah memiliki tugas-tugas rumah seperti memasak, membersihkan peralatan makan, dst; kita sebagai murid/siswa harus mengerjakan tugas dari sekolah atau kuliah; sebagai anggota dari komunitas atau organisasi, kita juga punya tugas tersendiri tergantung dari amanah yang diberikan kepada kita; begitu juga dengan peran-peran lainnya. Terkadang, tugas-tugas tersebut rasanya tidak habis-habis ya? Mati satu, eh malah tumbuh seribu. Tapi kalau nggak ada kegiatan, kita juga bingung karena bengong aja.

Nah berkaitan dengan kegiatan yang cukup menumpuk, kadang kita sampai kewalahan sendiri untuk mengerjakannya. Bahkan tidak sedikit juga yang ketika merasa kewalahan tersebut melanda, kemudian memilih untuk sementara menunda pekerjaan yang dimiliki dan beristirahat sebentar, eh tapi keterusan nih! Ayo ngacung, siapa yang sering ngalamin gini? Sewaktu “keterusan”, malah akhirnya kita jadi nggak ngelakuin apa-apa, malah mungkin kita bermutasi jadi kaum rebahan, scrolling sosial media dari atas sampai bawah on repeat padahal nggak ada yang baru-baru amat, dan seterusnya. Mau balik seperti sebelumnya juga terasa sulit, ya? Endingnya malah kita semakin terjebak dalam lingkaran setan tersebut.

Agar nggak semakin terjebak, yuk pelan-pelan kita mulai memanajemen energi dan waktu kita! Gimana tuh caranya? Oke, kita bahas satu-satu yuk.

  1. Mapping aktivitas yang akan kita lakukan keesokan harinya atau seminggu kedepan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan kegiatan tersebut, apa saja materi yang dibutuhkan, di mana akan dilakukan, dengan siapa aktivitas tersebut akan kita lakukan, dan seterusnya. Perhitungkan juga waktu yang dibutuhkan untuk berpindah tempat jika kegiatan kita tidak hanya di satu tempat saja.
  2. Estimasi kemampuan atau limit tenaga kita. Sediakan atau selipkan waktu istirahat dalam sehari untuk memulihkan tenaga kita. Nggak apa-apa kok untuk menyediakan waktu beristirahat bagi tubuh, itu akan membantu kita untuk bisa berenergi kembali keesokan harinya. Kalau kita nggak cukup tidur, makan pun sedikit, gimana mau mikir dan ngelakuin kegiatan dengan nyaman? Bro, kita bukan manusia dengan kekuatan super yang bisa berhari-hari gak makan dan tidur.
  3. Minimalisir distraksi dan hal-hal yang membuat fokus kita teralihkan. Entah itu sosial media, series atau drama korea yang kita suka, atau apapun itu yang membuat kita mudah berpaling dari tugas utama. Memang menyenangkan, ya, rasanya ketika kita mengakses hal-hal tersebut. Kita nggak perlu mikir yang berat-berat, effort atau usaha yang kita keluarkan juga minimal, tapi kita bisa dapet kesenangan dengan cepat dan mudah. Sedangkan lihat jurnal, materi pembelajaran, kerjaan kantor, rasanya udah males aja tuh! Kesenangan yang bisa kita akses dengan mudah itu disebut dengan instant gratification. Apa itu instant atau delayed gratification? Bisa cek di sini ya What’s So Bad About Instant Gratification? — JSTOR Daily
  4. Start from the small. Bagilah pekerjaan kita menjadi bagian bagian kecil yang mudah untuk dilakukan. Lebih mudah, ya, untuk bisa jalan-jalan sekitar rumah ketimbang kita harus manjat pohon kelapa dalam waktu yang sesingkat-singkatnya? Gak salah kok, kalau kita punya semangat 45 untuk menjalani rencana yang kita punya, tapi kita perlu realistis juga ya untuk bisa menyelesaikannya. Tugas yang terlalu besar juga dapat membuat kita demotivasi dan akhirnya malah nggak ngelakuin apa-apa.
  5. Kalau perlu membuat to-do list, silahkan. Banyak sekali template dan metode yang bisa digunakan, bisa disesuaikan dengan preferensi serta kebutuhan masing-masing individu. Segala sesuatunya nggak ada yang instan, bahkan mie instan saja harus dimasak dulu 5 menit baru bisa kita makan. Kalau belum bisa sekali dua kali, ya nggak apa-apa. Coba lagi ya, siapa tahu percobaan kesekian malah sudah otomatis tuh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s